cctv

 

 

 

 

 


Arsip Artikel

TENTUKAN PILIHAN DAN PERJUANGKANLAH..!!!
ALLOH YANG MAHA KUASA BERSAMA KITA
Oleh Yamin Mubarok

Hidup itu tidaklah mudah. Hidup itu tak bisa asal-asalan. Hidup itu adalah pilihan. Hidup itu adalah perjungan. Perjuangan itu butuh pengorbanan. Betulkah begitu?. Sebagian orang ada yang mempunyai tujuan hidup. Sebagian orang ada juga yang tidak mempunyai tujuan hidup. Tentunya mereka berbeda dalam memandang dan menyikapi kehidupan. Kita termasuk kepada orang yang mempunyai tujuan hidup atau tidak?. Kita sendiri yang tau dan menyadarinya.
Yang kita tahu adalah kita lahir ke alam dunia dan diberikan raga dan ruh untuk hidup. Dengan raga dan ruh kita hidup dan menjalani kehidupan. Tentunya, kita sadar betul bahwa ada Dzat Yang Maha Kuasa yang menciptakan, menghidupkan dan memberi kehidupan kepada kita. Pastilah Dzat Yang Maha Kuasa itu tak mungkin membuat segalanya itu sia-sia, tak ada makna dan tak ada tujuan. Bagi seorang muslim, Dzat tersebut adalah Alloh Ta’ala. Dan Alloh Ta’ala menciptakan manusia dan jin agar mereka beribah kepada Nya, dan manusia yang mengambil amanah sebagai kholifah di muka bumi ini. Manusia bertugas dan bertanggungjawab untuk mengelola bumi dengan segala isinya untuk kemaslahatan mereka. Mengelola dengan baik untuk kepentingan mereka tanpa melakukan kerusakan.
Hidup itu adalah sebuah pilihan. Tuhan menciptakan manusia dengan tujuan agar mereka beribadah kepada Nya, dengan tetap memberikn pilihan. Manusia dipersilahkan untuk memilih untuk menjalani hidup di jalan fujur (menyembah kepada selain Alloh, berbuat dosa/ jahat, dan semacamnya) atau menjalani hidup di jalan taqwa (menyembah Alloh, berbuat baik, dan semacamnya). Pilihan manusia itu tentu kedua-keduanya akan memperoleh akibatnya yang berbeda. Ada yang memperoleh kebagiaan di dunia dan akhirat, dan ada pula yang tidak bahagia. Semuanya disebabkan pilihan yang dijalani oleh manusia itu sendiri.
Dalam kehidupan dunia ini, orang memilih profesinya masing-masing. Ada yang berprofesi di bidang ekonomi, politik, sosial, kesehatan dan lain sebagainya. Di bidang ekonomi ada yang memilih untuk menjadi pengusaha/ pedagang, ekonom/ pengamat ekonomi. Mereka ada yang memilih sebagai petani (untuk bahan produksi), produsen, distributor dan penjual. Di bidang politik, ada yang memilih untuk menjadi pengamat politik, mendirikan partai politik/ kader dan anggota partai, anggota legislatif (DPR, DPRD, DPD) dan ada juga yang memilih menjadi eksekutif (Presiden, Gubernur, Bupati, Walikota, Menteri dls). Semuanya tergantung pilihan kita, dan kita lah yang menentukan pilihan dan memperjuangkannya.
Namun demikian, pilihan profesi yang kita pilih tentunya harus kita perjuangkan. Bahasa sederhananya, tentukan pilihan dan perjuangkan. Setiap orang menentukan pilihan sesuai dengan latar belakang, kondisi, lingkungan dan berbagai faktor lain yang mempengaruhi penentuan pilihan tersebut. Itu semua tidak mengapa. Namun yang paling penting kita selektif dengan berbagai pertimbangan yang baik dalam menentukan pilihan hidup kita. Kita mengambil dan menetapkan pilihan, itu harus. Pilihan yang ada tentu semuanya baik dan kita harus mengambil dan menetapkan yang terbaik. Bisa saja dan sebaiknya, kita melibatkan Alloh Yang Maha Kuasa dalam menetapkan pilihan. Dan bila, pilihan itu sudah kita tetapkan, maka kita mesti mengetahui dan memahami dengan sempurna dan menjalankan berbagai proses untuk mewujudkan pilihan tersebut.
Dasar ilmunya sudah ada sebagai salah satu yang menentukan pilihan tersebut, namun kita harus meningkatkan kapasitas ilmu tersebut dalam mewujudkan pilihan tersebut. Menjalankan proses untuk mewujudkan pilihan itu tentunya dengan ilmu dan kesungguhan dalam berusaha. Dan tentunya, melibatkan Alloh Yang Maha Kuasa dalam setiap pengambilan pilihan dan usaha dalam mewujudkan pilihan, itu lebih baik. Dengan melibatkan Alloh Yang Maha Kuasa tersebut akan semakin lebih mudah dan lebih cepat dalam mewujudkannya, karena Dia akan membantu segala ikhtiar kita, dan Dia sebetulnya yang menjadi faktor paling utama yang menentukan berhasil dan tidaknya. Jika kita hanya mengandalkan diri kita sendiri, sekuat-kuatnya dan sehebat-hebatnya manusia tentu pada suatu waktu dia akan kepayahan dan lemah. Dan kalau kita mau jujur, manusia tak bisa apa-apa dan tak punya daya apa pun, bila Alloh Yang Maha Kuasa tidak memberikan dan mengijinkannya.
Setiap profesi yang kita pilih dan jalankan, kita lah yang akan menentukan. Namun perlu kita sadari, ketika kita memilih, memperjuangkan dan mendapatkan semua yang kita harapkan, dengan diminta atau tidak meminta, sebetulnya Alloh Yang Maha Kuasa hadir dalam semuanya itu. Alloh Yang Maha Kuasa yang memberikan daya dan upaya kepada kita dan mengijinkan semua hal itu terjadi. Karenanya kita sebagai manusia tak layak untuk bersikap angkuh, congkak dan sombong.
Ketika kita memilih, memperjuangkan dan pilihan tersebut tercapai, misalnya menjadi ASN dan Pejabat Negara di pemerintahan, maka bersykurlah kepada Nya. Wujud bersyukur itu, dengan menggunakan semua kesuksesan itu dengan semakin rajin beribadah dan membantu orang lain yang membutuhkan. Tidak akan pandai bersyukur kepada Alloh, jika tidak pandai berterima kasih kepada sesama manusia. Ketika kita menjadi ASN dan Pejabat Negara di pemerintahan, maka kita yang menentukan pilihan untuk menjadi ASN dan Pejabat Negara yang baik atau buruk. Apakah kita akan menjadi ASN dan Pejabat Negara yang mau melayani masyarakat, bekerja dengan semangat dan sungguh-sungguh, bekerja dengan jujur dan tidak melakukan KKN, pungli, gratifikasi dan penyalahgunaan wewenang, dan mementingkan kepentingan negara dan rakyat di atas kepentingan pribadi, kelompok atau golongan?. Ataukah sebaliknya?. Kita lah yang menentukan pilihan itu.
Orang bilang jangan terjun di dunia politik, karena politik itu kotor. Jangan masuk ke dunia pemerintahan, karena pemerintahan biasanya korup. Banyak lagi ungkapan-ungkapan lainnya. Padahal politik dan pemerintahan itu hanya bagian dari bidang, sektor atau dimensi saja. Bukan kah di bidang yang lain juga sama?. Baik dan buruknya itu, tergantung orang yang menjalankannya. Ada politikus yang bersih juga. Ada pejabat yang jujur juga. Dalam semua bidang, sektor maupun dimensi juga, ada yang baik dan buruk. Tergantung pilihan kita dalam menjalankan semua peran yang kita perankan.
Untuk kehidupan di dunia ini maupun nanti di akhirat, maka kita harus tentukan pilihan kita. Perjuangkan dengan segala daya dan upaya serta libatkan Alloh Yang Maha Kuasa dalam setiap ikhtiar kita. Belajar dan belajar untuk meraih ilmu dan kemampuan/ keahlian yang dibutuhkan. Mencoba dan mencoba, jangan takut gagal dan jangan berhenti ketika gagal. Perlu kesungguhan dan kesabaran dalam meraih segala yang kita harapkan dan cita-citakan. Selalu ada rintangan dan hambatan, baik dari diri sendiri maupun orang lain. Kadang orang lain mencibir atau mengatakan suatu yang negatif, yang melemahkan semangat kita. Kadang di titik puncak kegagalan, membuat kita lemah, prustasi, putus asa dan tak mau lagi melanjutkan ikhtiar lagi. Jangan dengarkan dan halau jauh-jauh semua cibiran dan perkataan negatif. Pantang meneyerah dan selalu optimis dan semangat. Jangan pernah berhenti berjuang. Percayalah pada diri sendiri dan percayalah bahwa Alloh Ta’ala pasti akan mewujudkan semuanya, bila kita sungguh-sungguh dan meminta dengan penuh harapan dan keyakinan kepada Nya (selalu berbaik sangka kepada Nya). Alloh Yang Maha Kuasa tidak akan pernah dholim kepada manusia. Semua perkataan dan perbuatan (usaha) pasti ada balasan yang setimpal (bahkan dilipatgandakan). Dan ingatlah ketika berhasil, kita jangan lantas puas dan berhenti berjuang. Jadilah orang-orang yang selalu bersyukur dengan tiada henti beribadah kepada Nya dan menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain.
Sebuah Kisah,
Ada sesorang yang sudah menetapkan pilihan hidup sebagai sebuah cita-cita. Dia ingin menjadi Ulama atau Pejabat. Menjadi ulama, ingin menyatukan umat atau menjadi Pejabat untuk bisa membuat kebijakan yang baik buat umat. Waktu dilaluinya dengan belajar mengejar cita-cita tersebut. Kuliah dengan segala keterbatasan materi. Namun tak disangka, dia dapatkan beasiswa, walaupun tidak besar. Teman sekuliahan selalu menjemput dan mengantarkannya secara bergantian dan selalu ngasih uang jajan atau mentraktir. Kalau tidak ada yang ngantar jemput atau mentraktir, dia pulang naik angkutan umum dan selebihnya jalan kaki dengan perut lapar. Kadang kalau ada kesempatan dia mencari uang dengan bekerja menjadi kuli kasar. Dia jalani hidup seperti itu, walau lelah dan kadang merasa tak semangat, tapi dia tetap menyemangati dirinya sendiri. Dan akhirnya bisa lulus kuliah. Setelah selesai kuliah S-1, dia berusaha mencoba mencari pekerjaan melamar kesana kemari. Dia mencoba beberapa kali untuk mengikuti tes CPNS, dengan harapan bisa menjadi pegawai negeri. Beberapa tes, baik semasa kuliah dengan menggunakan ijasah aliyah maupun sesudah selesai kuliah dengan menggunakan ijasah S-1. Puncaknya ketika dia tidak lulus test pada test kedua terakhir (sebelum dia lulus test), dia sudah putus asa dan prustasi. Namun dia tetap menyemangati dirinya dan ada pula yang memberikan semangat, walaupun ada juga yang malah mencibir dan mengatakan hal-hal yang negatif. Katanya buat apa ikutan test CPNS, tidak mungkin bisa lulus kalau tak punya uang dan channel atau keluarga pejabat yang berwenang yang kamun kenal. Dianggap mimpilah. Mengasosiasikan ibarat meloncati pagar dinding yang besar dan sangat tinggilah, dan lain sebagainya. Dia tak hiraukan cibiran dan omongan negatif orang lain, dan dia yakin bahwa tidak ada yang tidak mungkin bagi Alloh Yang Maha Kuasa. Walaupun tak punya uang untuk mengurus pendaftaran dan biaya perjalanan untuk mengikuti test, dia lakukan sebisanya dan mencoba mengumpulkan uang yang diperolehnya. Tibalah suatu saat ketika dia akan mendaftarkan diri pada tes yang terakhir, lebih banyak kesulitan yang dia hadapi, tapi selalu ada jalan kemudahan sebagai jalan keluarnya yang tak disangka-sangka. Semua ikhtiar dilakukan dengan do’a dan beribadah semampunya dan terus menanamkan keyakinan kepada Nya. Ketika mendekati waktu test tertulis, dia berangkat lebih awal ke tempat test akan dilaksanakan. Berbekal pakaian dan uang yang sedikit, dia berangkat 2 hari sebelum hari test dilaksankan. Maksudnya, supaya tidak terlambat karena harus mengecek tempatnya dulu, karena sebelumnya belum tau tempatnya. Setelah sampai di daerah yang dituju, dia singgah di masjid yang diharapkan bisa jadi tempat peristirahatan sebelum test dilaksankan, terlebih untuk tidur di malam harinya. Setelah itu dia berbegas mencoba mencari tempat test sesuai yang tertera dikartu (tempatnya disebutkan, tapi ada keterangan kalau ada perubahan akan diberitahukan kemudian). Setelah sampai di tempat yang dituju, dia langsung mengecek ruangan dan tempat duduk sesuai dengan nomor peserta yang tertera di kartu. Setelah mendapatkan dan mengetahui itu semua, dia memanfaatkan waktu untuk bermain ke tempat penjualan buku-buku di daerah itu. Setelah itu pulang ke masjid yang akan dijadikan tempat peristirahatan. Pada hari yang ditentukan untuk pelaksanaan test, dia berangkat pada malam harinya ke tempat test. Di sana dia bergabung dengan yang lain yang sudah datang sebelumnya berkumpul di masjid untuk beribadah, belajar, beristirahat dan tidur malam. Pada pagi harinya, dia mendatangani ruangan dan tempat duduk yang pernah dicek sebelumnya, dan duduk santai di tempat duduk itu. Tiba-tiba hanya tinggal beberapa menit test akan dimulai, datang seorang laki-laki peserta test menghampirinya dan mengatakan “maaf pak ini tempat duduk saya”. Dengan kaget dia berdiri terperanjat, dan mengatakan “ini tempat duduk saya”. Kata laki-laki “coba lihat no pesertanya pak”. Ternyata setelah mencocokan dengan nomor pesertanya, tempat duduk itu bukan tempat duduk dia, tapi tempat duduk laki-laki itu. Dengan harap-harap cemas dan khawatir dia langsung bertanya-tanya kepada panitia, “ saya sebenarnya tempat testnya dimana yah?. Jawab panitia, “tempatnya di LPTQ Sukamiskin”. Karena terburu-buru yang dia denger adalah LP Sukamiskin dan dia langsung lari keluar dan mencari angkutan umum. Baru beberapa meter jalan dan angkutan umum berhenti di lampu merah, dia langsung berinisiatif untuk turun dan mencari ojeg sepeda motor. Dia naik ojek sepeda motor munju LP Sukamiskin. Ketika sampai ke LP Sukamiskin, betapa kagetnya ternyata di tempat itu sepi dan tidak ada kegiatan test. Satpamnya mengatakan “coba pak mungkin di LP Sukamiskin yang perempuan sebelah sana”. Dengan semangat dia bergegas lari menuju LP Sukamiskin perempuan. Lebih kaget lagi dan lemas, ternyata sama keadaannya dengan LP Sukamiskin yang laki-laki, sepi dan tidak ada kegiatan apa pun. Dia dududk di bawah pohon sambil berujar “ Ya Alloh saya sudah beberapa hari di sini untuk mengikuti test, kalau saya tidak berhasil mengikuti test maka tidak yang bisa saya tunggu dan tidak ada yang diharapkan. Ya Alloh tolonglah hamba Mu”. Dalam keadaan yang hampa itu dengan setetes harapan yang ada, dia tetap duduk di bawah pohon itu. Tiba-tiba datanglah petugas kebersihan, seorang ibu dan berkata “Nak, waktu daftar dimana? Coba tanyakan?”. Dia terbangun dan tersadarkan, okh iya yah kenapa saya gak menanyakannya. Dia langsung bergegas lagi menunju tempat telepon umum dan menelepon ke nomor telepon tempat dia daftar. Ternyata tempatnya di LPTQ Sukamiskin. Dia langsung berbegas lari mencari ojeg motor. Setelah naik motor ternyata dekat dari LP Sukamiskin. Setelah sampai ke tempat kira-kira jam 10.00 WIB lebih, dia menghampiri panitia menyampaikan sebab keterlambatan, meminta maaf dan ijin untuk bisa mengikuti test. Setelah diijinkan ikut test ternyata tempat duduknya di depan pintu masuk. Dia segera membuka soal-soal test dan dengan cepat segera mengisinya. Dan ternyata serasa mudah sekali menjawab soal-soalnya. Soal TKD dan TKB bisa diselesaikan dengan cepat, dan bahkan yang lebih duluan selesai mengisi soal-soal tersebut dibanding peserta yang lain yang sudah datang tepat waktu. Setelah selesai mengisi soal-soal dan melaporkan kepada panitia, dia pulang dengan hati yang tenang dan bahagia serasa sudah lulus (yakin lulus). Diperjalanan, ketika naik bus tangannya terluka dan berdarah cukup banyak dan semakin lemas. Tapi itu tak dirasa. Pulang dengan rasa bahagia karena sudah selesai mengikuti test dan merasa sudah lulus. Setelah sampai di rumah, dia tidak memikirkan dan menunggu hasil test. Dia terus kuliah mengikuti study Akta IV untuk bisa menjadi Guru, namun di suatu waktu dia mendapatkan kabar untuk daatng ke satu pengadilan. Ketika besoknya, dia mendatangi pengadilan itu. Ada beberapa teman yang kenal mengucapkan selamat. Sambil bingung, dia mengatakan “terima kasih”. Setelah menghadap, pejabat di pengadilan itu mengatakan “selamat kamu lulus test dan segera melakukan pemberkasan, sudah cukup lama bapak dicari-cari karena lulus test dan waktu pemberkasan tinggal 2 hari lagi”. Setelah mendapatkan informasi begitu, dia langsung bergegas pergi dan menyiapkan berkas untuk pergi ke tempat pendaftaran test untuk menyampaikan berkas. Ternya setelah sampai, dan diperiksa masih banyak berkas persyaratan yang kurang, dan harus segera dilengkapi. Sementara besok hari terakhir. Dia segera pulang lagi mengurus kekuarangan, dari malam, pagi sampai dengan siang mengurus kekurangannya ke beberapa tempt, namun alhamdulilah semuanya bisa selesai sebelum Jum’atan, dan setelah sholat Jum’at langsung berangkat lagi ke tempat pemdaftaran untuk menyampaikan kekuaranganya. Alhamdulillah mereka masih menunggu walaupun jam kerja sudah terlewati, akhirnya semua berkas sudah lengkap dan mereka di malam itu bisa berangkat ke pusat untuk membawa berkas-berkas tersebut. Walaupun melelahkan, alhmdulillah semuanya sudah bisa dilewati dan selesai pada waktu yang tetap.
#Tentukan Pilihan, Perjuangkan dan Jangan Pernah Berhenti Berjuang#Salam Sukses#Yakin Usaha Sampai#Alloh Bersama Kita#

Add comment

Security code
Refresh